Oleh : Jeffry Pangihutan Hasibuan
Globalisasi membuat garis batas antar Negara menjadi kabur. Tidak ada lagi sekat antar bangsa, dan bumi ini hanya digambarkan sebuah kertas kecil yang dapat dilipat maupun dibolak-balik. Globalisasi Kemajuan kapitalisme global yang mulai menemukan bentuk pada tahun 1920-an adalah titik terpenting perubahan konfigurasi kebudayaan manusia. Ide produksi sebagai faktor dominan pembentuk pasar kompetitif pada Kapitalisme awal, dalam era kapitalisme lanjut tergantikan oleh modus konsumsi. Konsumsi adalah determinan penting dalam modus operasional kapitalisme lanjut. Tidak sebatas itu, menurut Kellner, konsumsi adalah sebuah mesin penggerak penting yang mengarahkan realitas sosial, budaya dan politik (Kellner, 1994;3). Enersi kapitalisme lanjut tidak terletak pada kemampuan produksi lagi, melainkan kekuatan untuk terus meningkatkan kekuatan dan hasrat konsumsi. Titik. Disinilah postmodernitas dimulai.
Perubahan enersi kapitalisme dari modus produksi menjadi keinginan untuk memaksimalkan konsumsi telah memberi efek tidak sederhana pada ruang kultural manusia. Sejauh ini, kekuatan kapitalisme lanjut tersebut dinilai telah berhasil dengan cukup baik, buktinya adalah terbentuknya masyarakat yang kerap disebut sebagai masyarakat konsumer. Sangat memungkinkan untuk memberikan penjelasan atas perubahan sporadis secara genealogis.
Konsumsi yang pada era sebelumnya merupakan relasi kebutuhan dan pemenuhan, akhirnya direduksi menjadi sebuah mode, bukan pemenuhan kebutuhan semata. Dalam sirkulasi mayarakat konsumer, konsumsi adalah aktifitas inti kehidupan
Masyarakat tontonan
Globalisasi bukan hanya melahirkan kebudayaan modern yang positif tetapi juga globalisme yang bercirikan budaya metropolitan yang hedonistis dan konsumeristis. Hedonisme melahirkan gaya hidup yang mengejar kenikmatan material, fisik dan seksual tanpa mengenal batas, sedangkan konsumerisme melahirkan gaya hidup mewah, boros dan berfoya-foya.
Baudrillard menyatakan bahwa masyarakat konsumsi juga merupakan masyarakat tontonan (society of spactacle). Tontonan adalah bentuk doktrinasi konsumsi yang menyeruak ke tengah jantung masyarakat. Dalam konsep masyarakat tontonan, nilai-guna dan nilai-tukar, sebagaimana ditegaskan oleh Marx, telah kehilangn kesakralan dan kebenarannya. Nilai-tukar (exchange value) dan nilai guna (used value) telah berubah menjadi nilai tanda (sign value) dan nilai simbolik (simbolic value).
Menurut Baudrillard, fungsi komoditas tidak lagi ditentukan dengan adanya nilai guna atau nilai tukar semata, melainkan juga ditentukan oleh nilai-nilai simbol dan tanda yang dilekatkan pada komoditas-komoditas tersebut. Tema-tema gaya hidup, kelas, kemewahan, adalah bentuk idiologi tanda dan simbol konsumsi yang dimasukkan ke dalam komoditas. Walhasil, komoditas atau obyek-obyek konsumsi menjelma menjadi sebuah sistem klasifikasi masyarakat, status, prestise dan pola tingkah laku masyarakat.
Baudrillard hanya ingin menyatakan bahwa pemilihan obyek konsumsi, kebutuhan dan kenikmatan biologis sudah bukan lagi satu-satunya penentu yang menggerakkan, melainkan terpengaruh oleh sebuah sistem yang memberikan citra dan tanda yang merangsang terjadinya pola konsumsi yang sporadik. Konsumsi juga berarti peraihan prestise, status dan identitas.
Dalam pandangan Guy Debord, jika Karl Marx menyatakan prinsip ada (being) telah direduksi menjadi kepemilikan (having) ―atau perilaku yang mengarah untuk memiliki objek-objek atau komoditas-komoditas― maka konsep kepemilikan kini telah tergantikan oleh konsep penampakan (appearing). Dengan demikian objek-objek konsumsi tidak semata lagi ingin dimiliki karena tuntutan kebutuhan biologis, melainkan lebih didorong oleh keinginan-keinginan meraih citra. Bagi Baudrillard ini berarti kelahiran nilai simbolis (sybolic value) dan nilai tanda (sign value).
Budaya Massa
Namun pada perkembangannya, politik ekonomi kapitalisme telah mengadopsi sistem pembiakan budaya massa sebagai upaya guna memasifkan kampanye penerimaan komoditas ekonomi tertentu. Dengan menciptakan modus standarisasi dan dan penyeragaman selera atau rasa, mekanisme pembuatan produk akhirnya terarah langsung menuju sebuah model kemassalan kebudayaan dalam kerangka konsumsi.
Mungkin kita dulu tidak mengenal merk atau ikon-ikon perdagangan seperti Nike, Kentucky Fried Chicken, McDonald, Pizza Hut, dan sebagainya. Dengan penyeragaman rasa akhirnya kita mengenal dan secara bebas menerima merek-merek tersebut sebagian bagian yang ―seakan-akan― alamiah ada dalam kebudayaan kita. Pernahkah kita mengamati sebuah fenomena jilbab? Selepas peluncuran film Ayat-ayat Cinta masyarakat berjilbab dihebohkan dengan trend jilbab ala zaskia Adya Mecca.
Budaya massa awalnya adalah budaya rendahan ―tepatnya budaya rakyat atau folkculture― yang berposisi lawan sebagai lawan kata budaya tinggi para aristocrat
Namun, apa sesusngguhnya di balik gejala globalisasi yang demikian itu?, apa yang disebut-sebut dan dimaksud dalam globalisasi bersumber pada realitas liberalisasi ekonomi sebagai gagasan awalnya. Argumentasi yang dipakai adalah bahwa derap langkah perkembangan teknologi dan komunikasi serta perdagangan internasional kini mendasarkan dirinya pada paradigma borderless world yang tidak mengenal batas-batas teritorial kedaulatan negara bangsa.
Implikasi perkembangan teknologi dan informasi ini meluas pada bidang-bidang lain di luar masalah perdagangan ekonomi yakni bidang sosial budaya lainnya. Dengan demikian, akar dari kecenderungan ini adalah kemajuan teknologi yang membuka jalan bagi terciptanya mekanisme transaksi ekonomi yang begitu canggih sehingga mendorong dinamika sosial lainnya. Hal ini menurut saya penting untuk diekplorasi lebih lanjut. Sebab kecenderungan latah berbicara globalisasi selama ini, baik itu sebagai realita atau sekadar “pembayangan” — baik itu yang menolak ataupun yang setuju — lebih cenderung menempatkan globaliasai sebagai persoalan budaya semata. Oleh karena itu, ada baiknya jika sejenak kita melihat fenomena itu dalam bingkai yang mungkin kurang disukai, yakni dari sudut ekonomi-politik. Dengan demikian, menjadi tepat kiranya jika kemudian kita membicarakan kapitalisme — yang notabene sebagai cikal-bakal lahirnya globalisasi — sebagai objek yang pokok. Ada dua hal yang membuatnya demikian.
Pertama, kapitalisme itu sendiri berdiri bukan saja sebagai konsepsi idealitas manusia, melainkan sebagai realitas yang konkret yang hadir, dihadapi, dan dialami oleh manusia modern. Kedua, ada asumsi bahwa kehadiran kapitalisme sebagai corak produksi ekonomi yang berada dalam posisi basis (struktur), kurang-lebih diyakini sebagai faktor determinatif bagi perubahan sosial ketimbang suprastruktur semisal agama, politik, negara, ideologi, atau budaya atau jika tidak demikian, setidaknya hubungan timbal balik (dialektis) antarkeduanya hampir tidak pernah lepas keterikatannya terhadap persoalan perekonomian.
Marginalisasi negara
Atas dasar alasan-alasan fundamental ekonomi di atas, kemudian bolehlah kita melebar pada wacana aktual dengan dampak-dampak globalisasi (kapitalisme baru) kini sedang menjalar dalam setiap lokasi dan dalam detak jantung kehidupan umat manusia. Satu hal yang penting untuk ditelaah kemudian adalah menjelaskan fenomena keberadaan dan perubahan dalam konteks negara bangsa. Pasalnya, kekuatan modal dalam pasar sebagai basis utama penggerak laju perdagangan yang didukung keberadaan globalisasi dalam memengaruhi kebudayaan bukanlah berjalan sendiri tanpa terkait dengan instrumen negara.
Ini bisa kita saksikan bagaimana sebuah negara-bangsa, katakanlah negara Indonesia mengalami perubahan demokratisasi politik dan liberalisasi perdagangan sangat terkait dengan program-program kapitalisme (baca: IMF dan Bank Dunia). Dalam konteks ini kemudian, hubungan ekonomi yang kuat dan melebar ke penjuru dunia inilah yang saya maksud di atas sebagai basis sosial di tingkat nasional. Arif Dirlik misalnya, pernah memunyai pandangan yang cukup bagus dalam melihat hal ini. Dalam bukunya “Formations of Globality an Raddical Politics” melihat tiga macam ciri-ciri untuk menjawab pengaruh gobalisasi tersebut. Pertama, desentralisasi kapitalisme, yang ditandai dengan kemunculan pusat-pusat baru kapitalisme, sebagai produk langsung dari globalisasi kapital. Dalam hal ini yang menjadi inti pusat dari globalisasi kapital itu adalah perusahaan-perusahaan transnasional (transnational corporations), yang mengambil alih basis dinamika aktivitas perekonomian dari pasar nasional. Kedua, transnasionalisasi produksi yang menyebabkan munculnya kesatuan global dan sekaligus fragmentasi proses produksi yang menyebar dari level supranasional, level nasional, hingga level lokal. Ketiga, corak produksi kapitalisme menjadi corak-corak produksi prakapitalisme dan sebagai konsekuensinya terjadi homogenisasi budaya modernitas kapitalisme. Jika ini kita tarik dalam konteks Indonesia misalnya, teori Dirlik ini mirip menggambarkan perilaku para elite politik kita yang sedang berpesta pora merayakan kapitalisme global. Arus putaran kapitalisme seperti ini di Indonesia bisa dicontohkan dengan adanya kebijakan neoliberalisasi seperti privatisasi badan-badan usaha milik negara, restrukturisasi, bahkan demiliterisasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar