Sabtu, 20 Maret 2010

KASUS

Salam sejahtera
Teriring salam hangat dan hormat untuk anda sekalian
Suatu kesempatan yang saya tunggu akhirnya datang juga untuk bisa berkomunikasi dengan kalian.. sebelumnya ijinkan saya mengucapkan terima kasih yang belum sempat saya ucapkan atas bantuan materil maupun moriil kalian kepada saya dan keluarga, sehingga kami bisa bertahan sampai dengan hari ini.
Menurut saya ini adalah sebuah kesempatan yang tidak wajar ketika harus dipertemukan dalam sebuah ruang dan waktu yang kurang tepat dan elegan, dan saya menyesali itu. Namun keadaan dan situasi menentukan jalannya.
Seperti yang telah ibu ceritakan, bahwa saya mengalami suatu permasalahan yang pelik, ketika saya harus berhadapan dengan birokrasi yang otoriter dan dijalankan tanpa hati sehingga menjadi sebuah besi tirani yang kaku. Atau mungkin juga berada di tengah peperangan kepentingan politik antar jurusan dalam kampus yang memang tidak jauh dari proses dialektis dan dinamika kehidupan kampu.
Saya menghadapai kasus dimana saya harus menambah masa studi saya selama 2 semester lagi (1 tahun). Berikut adalah fakta-fakta yang akan saya jabarkan, dan kalian dapat menngambil konklusi dari fakta-fakta yang ada.
saya menghadapi masa-masa sulit dimana kondisi keuangan keluarga yang sangat tidak baik, beberapa waktu lalu uang saku dari ibu tersendat, saya dilit permasalahan hutang, waktu, dan permasalahan lain yang menyebabkan konsentrasi terpecah antara mencari tambahan uang untuk pemenuhan kebutuhan dan kegiatan akademik yang sangat padat. Bergabung dengan dosen untuk proyek-proyek penelitian adalah suatu solusi yang saya anggap cukup produktif. Akhirnya saya bergabung dengan beberapa proyek penelitian yang ternyata menyita banyak waktu saya. Pergi keluar kota untuk mencari data ataupun sekedar menggarap laporan.
Ternyata proyek-proyek yang bersifat incidental itu tidak dapat memenuhi kebutuhan saya. Pernah suatu ketika saya harus mengkonsumsi nasi dengan kerupuk selama beberapa minggu, karena penelitian yang saya lakukan telah selesai dan waktu vakum. Suatu kondisi yang sangat teramat sulit. Saya tersadar bahwa ternyata telah banyak waktu-waktu perkuliahan yang saya tinggalkan karena kegiatan itu.
Kegiatan dan keadaan yang sulit itu ternyata berdampak terhadap kesehatan saya, dalam 1 bulan saya hanya dapat berpikir untuk bagaimana menghemat sisa2 tenaga untuk bergerak. Mungkin seperti kalimat hiperbolis, tapi itu yang sebenarnya terjadi dan gak pernah sampai di telinga ibu, yang Cuma akan menjadi beban bagi dia.
Kondisi ini terakumulasi dan puncaknya adalah pencekalan saya pada 3 matakuliah ulangan (sebelumnya mendapat nilai C) karena tidak memenuhi aturan minimal absensi 75% tatap muka. Sungguh sangat ironis memang, ketika 5 matakuliah yang saya ambil (3 matakuliah ulangan, 1 mata kuliah baru, dan 1 skripsi) terganjal 3 matakuliah ulangan yang notabene sebelumnya telah saya ambil.
saya mendapatkan nilai akademis yang cukup memuaskan. Dengan IPK 3,26 dan sisa 4 nilai C, pada awal semester kemarin saya berniat untuk mengulang 3 matakuliah yang mendapat nilai c untuk meminimalisir nilai C itu. Harapan saya adalah lulus dengan IPK bagus dan sisa 1 nilai C. cukup membanggakan dengan segala macam pengalaman saya sebagai mentor dalam beberapa mata kuliah dan aktif berkegiatan di kampus.
Skripsi saya bekerjasama dengan penelitian Dosen tentang Program Corporate Social Responsibility di PT Pertamina UP IV CIlacap dan PT Holcim Tbk. Saya sudah turun lapangan dan dalam proses hasil pembahasan skripsi, yang saya targetkan selesai pada januari 2010 ini, dengan harapan bisa wisuda pada bulan Maret. Saya pun telah menyelenggarakan seminar proposal skripsi sebagai tahapan awalnya.
Artinya segalanya telah saya lalui dan saya hadapi, sampai pada tahap dimana gelar (yang bagi sebagian orang sangat penting) sebagai pintu awal menuju masa depan yang lebih baik buat keluarga saya.
Pencekalan ini menyebabkan saya harus mengambil ulang mata kuliah yang saya ulang tersebut pada semester Gasal (ganjil) yaitu dimulai pada bulan Juli-Desember, karena mata kuliah tersebut hanya ada pada semester ganjil (sosiologi pedesan). Untuk matakuliah pengantar statistic social dapat diambil pada semester genap di jurusan lain. Dan untuk mata kuliah Azas-azas manajemen dapat saya hapus karena merupakan matakuliah pilihan (berkaitan dengan sensitifitas jurusan).
Kenapa sensitifitas jurusan? Sudah menjadi rahasia umum bahwa antara jurusan Administrasi Negara dengan Jurusan Sosiologi terdapat persaingan yang bersifat politis. Untuk dosen pada matakuliah tersebut memperbolehkan saya untuk ujian walau saya kurang dalam tatap muka, namun saya terganjal pada Pembantu Dekan 1 (PD 1) yang mempunyai otoritas dan kebijakan. Hanya beliau yang dapat memperbolehkan saya untuk ujian dan tentunya menentukan nasib hidup saya, apabila beliau dapat membuka hati dan kebijaksanaan dengan melihat parameter yang saya miliki. Saya pernah menghadap beliau dan menangis di depan dia serta memohon kebijaksanaan, namun karakter beliau yang keras dan kaku pada peraturan menyebabkan usaha saya sia-sia. Pun saya telah membuat surat pernyataan diatas materei, namun kembali sia-sia. Menurut subjektifitas saya, beliau punya tendensi politis dibalik itu. Karena beliau dari jurusan AN dan saya mahasiswa sosiologi yang aktif berorganisasi.
Hal ini menjadi ironis ketika Dekan (dari sosiologi) berusaha menolong saya dengan mengadakan rapat tertutup dengan jurusan sosiologi. Namun dimentahkan dengan alasan politis juga. Jika menolong saya, maka posisinya sebagai Dekan dapat digugat, karena membela pihak yang salah.
Kini yang hanya tersisa hanyalah harapan agar beliau (PD 1) mempunyai hati nurani dan kebijaksanaan. Dan bukan hanya kebijakan yang kaku. Sebagai pemegang otoritas, beliau dapat merubahnya, namun hatinya yang tertutup dan kebencian pada aktivis kampus telah menutupnya..
Demikian kronologis dari kasus atau permasalahan yang saya hadapi. Tentunya kalian dapat mengambil kesimpulan dari kejadian ini. . begitu sulit untuk menjelaskan ke ibu,, dan beban berat yang saya hadapi.

1 komentar:

  1. Buat jadi orang yang tangguh, musti kuat dan berani dalam mengahadapi tantangan hidup.
    Di balik musibah pasti ada kebahagiaan...
    Selalu semangat dan rendah hati. :p

    BalasHapus